PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR ANAK OLEH PANTI SOSIAL
ASUHAN ANAK (PSAA)
artikel diambil dari jurnal http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/view/13232/6076, sebagai bahan referensi untuk perkembangan PSAA Qothrotul Falah Cikulur Kab.Lebak
Setiap individu mempunyai kebutuhan dasar, tidak
terkecuali anak-anak. Dan setiap anak memiliki
kebutuhan-kebutuhan khusus. Karena
itu orang tua seharusnya mengerti
apa yang menjadi
kebutuhan dasar seorang anak. Hal ini npenting sebab anak adalah
individu, anak mengalami proses perkembangan. John Comenius mengatakan: “We must understand the child, so that our
teaching may be designed to match his capacity” (www.edukasi.kompasnia.com
diunduh pada tanggal 16 desember 2014 pukul 18.00 wib)
Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan
anak adalah orang tua, sekolah, dan lingkungan. Ketiga
faktor tersebut merupakan
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks pengasuhan dan
perlindungan anak, orang tua keluarga mempunyai peran sentral, karena dalam hal ini anak sangat
tergantung pada orang dewasa.
Bagi anak yang memiliki orang tua,
pengasuhan anak menjadi
tanggung jawab orang
tuannya, tetapi bagi anak yang tidak memiliki
orang tua, maka anak tersebut menjadi tanggung jawab negara.
Anak merupakan harapan bangsa dan orang tua akan selalu berusaha agar
anak mereka bisa menjadi apa yang diinginkan dengan berusaha memberikan seluruh
yang ada pada orang tua, yang akan diberikan kepada anaknya. Dalam sebuah
keluarga seorang anak diwariskan norma-norma
atau aturan-aturan serta nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat.
Anak dilatih tidak hanya mengenal tetapi juga menghargai dan mengikuti norma
hidup masyarakat melalui kehidupan dalam keluarga. Disini keutuhan keluarga
sangat diperlukan dan penting dalam proses sosialisasi seorang anak.
Kehadiran orang
tua memungkinkan adanya rasa kebersamaan sehingga memudahkan orang tua untuk
mewariskan nilai-nilai moral yang dipatuhi dan ditaati dalam berprilaku. Dalam
hal ini orang tua mempunyai peran yang paling dominan dalam tumbuh kembang,
proses sosialisasi, dan pertumbuhan seorang anak secara optimal. Kebutuhan
merupakan hal yang paling yang harus dipenuhi oleh setiap manusia, baik dalam
segi fisik, emosional, dan pendidik. Ada beberapa macam kebutuhan yang harus di
penuhi oleh manusia, namun lebih idealnya jika kebutuhan dasar terlebih dahulu
yang harus di penuhi, dengan hal ini manusia tersebut hidup nya akan sejahtera
dan mampu berfungsi sosial.
Keadaan tersebut di atas, akan berbeda bagi anak yang tidak mempunyai keluarga secara utuh. Disorganisasi keluarga
seperti perceraian orang
tua, krisis ekonomi
keluarga dan meninggalnya salah satu atau kedua orang tua menyebabkan terputusnya
interaksi sosial antara orang tua dengan anak dan anak tidak mendapatkan pola
pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhannya. Akibatnya, anak menjadi kurang
mendapat perhatian dan pendidikannya terabaikan. Selain kurang mendapatkan
perhatian dan pendidikan anak tersebut bisa bermasalah dalam tumbuh kembangnya
dan tidak mendapatkan pengarahan yang baik dari orang sekitarnya hal ini
memungkinkan anak akan berprilaku menyimpang dari norma dan nilai yang berlaku
di masyarakat. Maka salah satu cara yang
dilakukan agar anak tetap dalam pengasuhan dan mendapatkan perhatian adalah dengan menampung anak-anak tersebut kedalam
suatu wadah yaitu panti asuhan, guna membantu meningkatkan kesejahteraan anak
dengan cara mendidik, merawat, membimbing, mengarahkan dan memberikan
keterampilan-keterampilan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga.
Dengan demikian dibutuhkan suatu lembaga yang konsen terhadap pemenuhan
kebutuhan anak, salah satu lembaga yang fokus terhadap pemenuhan kebutuhan
dasar anak agar anak dapat tumbuh bkembang secara optimal yaitu panti asuhan.
Panti asuhan sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Dengan
demikian seorang anak akan lebih nyaman dan secara tidak langsung mereka merasakan
kehangatan dan kebersamaan dalam keluarga seperti hal nya anak yang dalam
bimbingan orangtuanya langsung. Namun ketidakberdayaan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan anak dan memberikan pola asuh yang baik terhadap anak. Hal ini
menyebabkan anak menjadi terlantar dan tunbuh kembangnya tidak optimal. Banyak
anak yang tidak bisa dipenuhi kebuthannya oleh orang tua maupun saudaranya
sehingga anak menjadi terlantar.
Anak terlantar merupakan salah satu permasalahan yang masih menjadi
isu bangsa Indonesia. Permasalah anak terlantar di
Indonesia sejak lama menjadi pelik karena menyangkut masalah yang sangat luas
keberadaan mereka tersebar di semua wilayah. Masalah tersebut semakin besar
sejak tahun 1997. Pada masa reformasi
terjadi krisis sosial,
ekonomi dan politik
yang berkepanjangan yang berpengaruh terhadap kehidupan
bangsa dan masyarakat Indonesia. Hal tersebut membawa damapk negatif terhadap
pendidikan anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.
Dampak yang
terjadi antara lain
1. Meningkatnya
angka putus sekolah (droop out),
sehingga ada akhirnya mengakibatkan menurunnya angka partisiasi pendidiakn
2. Menurunnya
angka melanjutkan (continuation rate) ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Jumlah anak terlantar yang disebabkan ketidakberfungsian keluarga untuk
memenuhi kebutuhan anak dan memberikan pola asuh yang terbaik uuntuk
anak di Indonesia masih cukup tinggi dari tahun ketahunnya. Permasalahn
ini sangat miris bila kita melihat potensi besar yang dimiliki bangsa ini,
keadaan yang sangat kontras mengenai potensi dan permasalahan di negara ini,
dengan adanya anak terlantar, anak putus sekolah, anak dengan masalah ekonomi
keluarga hal ini menandakan bahwa bangsa ini belum sejahtera.
Maka dari itu, diperlukan perhatian
serius baik dari pemerintah maupun
masyarakat agar masalah tersebut dapat diatasi sehingga
anak dapat hidup sesuai dengan perkembangannya secara wajar.
Ada tiga kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar anak mengalami proses
tumbuh kembang anak secara optimal, yaitu
1.
Kebutuhan fisik dapat
dipenuhi apabila anak mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan
umumnya, pemantauan tumbuh kembang, pemeriksaan kesehatan, pengobatan,
rehabilitasi, imunisasi, pakaian, pemukimana yang sehat dan lain-lain.
2.
Kebutuhan emosi meliuti segala bentuk hubungan
yang erat, hangat
dan menimbulkan rasa aman
serta percaya diri sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya.
3.
Kebutuhan stimulasi atau
pendidikan meliputi segala aktivitas yang dilakukan mempengaruhi proses
berpikir, berbahasa, sosialisasi, dan kemandirian seorang anak (Hurlock, 1978 : 257).
Sesuai dengan posisi anak sebagai potensis dan penerus cita-cita
perjuangan bangsa maka permasalahan anak terlantar mendapatkanp erhatian dan
penanganan secara serius, proosional dan rofesional yang sekaligus merupakan
perwujudan amanat konstitusi uud 1945 asal 34 yaitu “fakir miskin dan anak
terlantar dipelihara oleh negara”. Dalam uud no.4 tahun 1979 tentang
keejahteraan anak disebutkan bahwa anak terlantar adalah anak yang karena sesuatu
sebab orang tuanya melalaikan
kewajiban sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar.
Masalah kesejahteraan anak merupakan salah satu masalah
dalam bidang kesejahteraan sosial, yang pada hakikatnya merupakan tanggung jawab kita
bersama sebagai anggota masyarakat, karena anak merupakan generasi penerus
bangsa yang akan datang dimana
baik atau buruknya
kondisi suatu bangsa dimasa
yang akan datang ditentukan dari kondisi anak sebagai generasi penerus bangsa.
Salah satu usaha
yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat dalam
meningkatkan kesejahteraan anak adalah dengan mendirikan panti sosial
asuhan anak (PSAA). Panti sosial asuhan anak merupakan lembaga sosial yang
memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat, khususnya anak-anak terlantar
dan anak yatim piatu. Panti sosial asuhan ini merupakan tempat bagi anak-anak
yang tidak memiliki keluarga utuh atau salah satu orang tua mereka tidak ada,
PSAA ini sebagai wadah tempat berkembang dan bertumbuh nya anak yang sesuai
dengan kebutuhan dasar anak. Dalam hal ini PSAA sangat membantu dalam tumbuh
kembang anak agar anak tersebut tumbuh dan berkembang sama seperti halnya
anak-anak yang memiliki orang tua yang utuh. Lembaga ini sangat membantu dalam
memenuhi kebutuhan dasar anak, dengan
terpenuhi nya kebutuhan dasar anak maka anak tersebut akan merasa senang dan sejahtera.
Pemenuhan
Kebutuhan Dasar Anak Oleh Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA)
Manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas dan selalu bertambah
dari waktu ke waktu dan manusia selalu berusaha dengan segala kemampuannya untuk
memuaskan kebutuhan tersebut. Kebutuhan manusia diartikan sebagai segala
sesuatu yang ingin dimilikinya, dicapai, dan dinikmati. Untuk memenuhi segala
kebutuhannya tersebut maka manusia terdorong untuk melakukan aktivitas sesuatu
agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Gibson (1996:186) mengemukakan bahwa
kebutuhan adalah kekurangan yang dialami individu pada suatu waktu tertentu.
Kekurangan tersebut dapat bersifat fisik misalnya
kebutuhan akan makanan,
psikologis misalnya kebutuhan untuk beraktualisasi
diri, atau sosiologis misalnya kebutuhan untuk interaksi sosial.
Kebutuhan-kebutuuhan merupakan pemicu dari respon perilaku.
Abraham Maslow (1989) dalam teori hierarki atau jenjang kebutuhan
mengajukan bahwa semua orang memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus
terpuaskan terlebih dahulu sebelum mereka menyadari kebutuhan-kebutuhan lain
yang lebih tinggi tingkatannya. Maslow mengutarakan ada lima macam kebutuhan
dasar manusia, yaitu:
1.
Kebutuhan fisiologis
(physiological need). Kebutuhan-kebutuhan dasar ini termasuk makanan, rumah
tinggal, pakaian dan kesehatan. Di sekolah, guru atau tenaga pengajar lainnya
memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dengan cara memberi stimulus agar anak usia
dini mampu mengeksplore kemampuannya sejak dini.
2.
Kebutuhan keselamatan dan
keamanan (safety and security needs). Kebutuhan-kebutuhan ini mengacu pada
hasrat terhadap perlindungan fisik dan ekonomis.
3.
Kebutuhan sosial
(affiliation or aceptance needs). Orang-orang ingin diterima oleh keluarga dan individu-individu lain dan kelompok.
4.
Kebutuhan akan penghargaan
(esteem needs). Orang-orang senang menerima perhatian, pengakuan, dan apresia
dari orang lain. Karyawan merasa senang ketika mereka dihargai atas kinerja
yang baik dan dihormati atas kontribusi mereka.
5.
Kebutuhan aktulasi diri
(self-actualization). Kebutuhan-kebutuhan ini mendorong orang-orang untuk
mencari pemenuhan kebutuhan menyadari tentang potensi diri mereka, dan secara
penuh menggunakan bakat dan kapabilitas mereka.
Menurut hierarki kebutuhan manusia, kebutuhan tingkat lebih rendah
meliputi hal-hal fisiologis, keselamatan, dan sosial. Sedangkan kebutuhan
tingkat lebih tinggi meliputi harga diri dan aktualisasi diri. Sementara
kebutuhan lebih rendah merupakan hasrat akan kesejahteraan sosial dan
kesejahteraan fisik, kebutuhan tingkat lebih tinggi mewakili keinginan
seseorang akan pertumbuhan dan perkembangan psikologis.
Maslow menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai kebutuhan
dan keberadaanya dibutuhkan, serta merupakan bagan itegral dari seluruh tatanan
kehidupan keanekaragaman hayati. Secara fisiologis perilaku manusia sama dengan
perilaku hewan yaitu lapar, seks,
kepanasan, kedinginan, haus, dan kapasitas mempetahankan diri (Maslow dalam
Sudarwan Damin, 1985). Perbedaan pada dimensi sosial dan keanekaragaman serta
jenjang kebutuhan sebagai insan berbudaya yang mengadung unsur cipta, rasa, dan
karsa (polak, 1980).
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai
usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang
sangat menentukan dalam
pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani
Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia dimana anak mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini sering disebut
sebagai usia emas (golden age).
Maknanan yang bergizi
dan seimbang serta stimulasi
yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.
Dalam tahap golden age, anak harus di bimbing dan diarahkan karena dalam masa ini perkembangan kognitif anak harus
mendapatkan stimulus agar dapat berkembang secara optimal.
Pemenuhan kebutuhan anak harus diperhatikan agar anak merasa senang dan
bahagia jika kebutuhannya dipenuhi dengan baik. Konsep pemenuhan kebutuhan anak
merupakan konsep yang mengedepankan tentang kebutuhan anak yang harus dipenuhi
agar tumbuh kembang anak secara optimal.
Ada tiga kebutuhan
dasar yang harus dipenuhi agar anak mengalami proses tumbuh kembang anak secara optimal, yaitu
1.
Kebutuhan fisik dapat
dipenuhi apabila anak mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan
umumnya, pemantauan tumbuh kembang, pemeriksaan kesehatan, pengobatan,
rehabilitasi, imunisasi, pakaian, pemukimana yang sehat dan lain-lain.
2.
Kebutuhan emosi meliuti segala
bentuk hubungan yang erat, hangat
dan menimbulkan rasa aman
serta percaya diri sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya.
3.
Kebutuhan stimulasi atau
pendidikan meliputi segala aktivitas yang dilakukan mempengaruhi proses
berpikir, berbahasa, sosialisasi, dan kemandirian seorang anak (hurlock, 1978257).
Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, namun
tidak semua orang tua mampu memenuhinya. Ketidakberfungsian keluarga menjadi
factor utama orang tua tidak dapat memnuhi kebutuhan dasar anaknya. Dalam hal
ini dibutuhkan suatu lembaga yang mampu memenuhi kebutuhan dasar anak.
Mengingat bahwasanya anak merupakan generasi
dan penerus cita- cita bangsa maka dalam hal ini
pemerintah memilki peran penting dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan
dasar anak .Jika sebuah keluarga tidak memiliki kemampuan untuk memnuhi
kebutuhan dasar anak maka pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi
kebutuhan dasa ranak
tersebut. Seperti
yang telah dijelaskan Dalam UUDNo.4 tahun 1979 tentang keejahteraan anak
disebutkan bahwa anak terlantar adalah anak yang karena sesuatu sebab orang
tuanya melalaikan kewajiban sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi
dengan wajar. Dengan adanya anak terlantar membuktikan bahwa ketidakberfungsian
keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar anak.Masalah kesejahteraan anak
merupakan salah satu masalah dalam bidang kesejahteraan sosial, yang pada
hakikatnya merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai anggota masyarakat,
karena anak merupakan generasi
penerus bangsa yang akan datang
dimana baik atau buruknya kondisi
suatu bangsa dimasa yang akan datang ditentukan dari kondisi anak
sebagai generasi penerus bangsa.
Salah satu usaha
yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat dalam
meningkatkan kesejahteraan anak adalah dengan mendirikan panti sosial
asuhan anak (PSAA). Panti sosial asuhan anak merupakan lembaga sosial yang
memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat, khususnya anak-anak terlantar
dan anak yatim piatu. Panti sosial asuhan ini merupakan tempat bagi anak-anak
yang tidak memiliki keluarga utuh atau salah satu orang tua mereka tidak ada,
PSAA ini sebagai wadah tempat berkembang dan bertumbuh nya anak yang sesuai dengan
kebutuhan dasar anak. Dalam hal ini PSAA sangat membantu dalam tumbuh kembang
anak agar anak tersebut tumbuh dan berkembang sama seperti halnya anak-anak
yang memiliki orang tua yang utuh. PSAA adalah suatu lembaga yang di ciptakan
oleh pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan sosial untuk anak- anank terlantar, anak yatim dan piatu, anak karena perceraian orang tua, dan anak yang tidak memiliki orang tua utuh (salah satu meninggal)
Lembaga ini memiliki
banyak peran untuk memberikan pelayanan kebutuhan dasar anak dan sebagai wadah untuk mengemabngkan
segala potensi yang di miliki oleh anak-anak yang tidak memiliki kesempatan
untuk mengembangkan potensinya. Lembaga ini bergerak dalam memberikan bantuan
perlindungan bagi anak-anak yang terlantar, yatim piatu, dan kaum dhuapa. Yang
dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap anak-anak yang kurang beruntung,
yang sebenarnya memiliki potensi guna menjadi generasi penerus bangsa.
PENUTUP
Anak merupakan
generasi dan penerus cita-cita bangsa dan menjadi kebanggaan orang tuanya.
Dengan demikian orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan
dasar anak nya dan berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk anaknnya
mulai dari kebutuhan fisik, kebutuhan emosional, dan kebutuhan stimulasinya.
Keadaan tersebut diatas, akan berbeda bagi anak yang tidak mempunyai keluarga
secara utuh. Disorganisasi keluarga seperti perceraian orang tua, krisis ekonomi
keluarga dan meninggalnya salah satu atau kedua orang tua menyebabkan terputusnya interaksi sosial antara orang tua dan anak.
Akibatnya, anak menjadi kurang mendapatkan perhatian dan pendidikannya
terabaikan. Selain kurang mendapatkan perhatian dan pendidikan anak tersebut
bisa bermasalah dalam tumbuh kembangnya dan tidak mendapatkan pengarahan yang baik dari orang sekitarnya hal ini memungkinkan
anak akan berprilaku menyimpang dari norma dan nilai yang berlaku di
masyarakat.Kegagalan dalam proses pememenuhan kebutuhan tersebut akan berdampak
negatif pada pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual, mental, dan sosial
anak. Anak bukan saja akan mengalami kerentanan fisik akibat gizi dan kualitas
kesehatan yang buruk, melainkan juga mengalami hambatan mental, lemah daya
nalar, dan bahkan perilaku-perilaku negatif, seperti autis, nakal, sukar
diatur, yang kelak menolong mereka menjadi manusia “tidak normal” dan pelaku
kriminal (suharto, 1997 ; 363-364)
Masalah kesejahteraan anak merupakan salah satu masalah
dalam bidang kesejahteraan sosial, yang pada hakikatnya merupakan tanggung jawab kita
bersama sebagai anggota masyarakat, karena anak merupakan generasi penerus
bangsa yang akan datang dimana
baik atau buruknya
kondisi suatu bangsa dimasa
yang akan datang ditentukan dari kondisi anak sebagai generasi
penerus bangsa. Maka dari itu, diperlukan perhatian serius
baik dari pemerintah maupun masyarakat agar masalah tersebut dapat diatasi
sehingga anak dapat hidup sesuai dengan perkembangannya secara wajar. Beberapa
kebutuhan yang
dibutuhkan oleh anak agar anak tumbuh kembang secara optimal yaitu dari aspek
fisik, emosional, dan stimulasinya. Ketiga
kebutuhan dasar ini sangat menentutakn tumbuh kembang anak
selanjutnya. Jika ketiga kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi maka
perekembangan anak terganggu dan tidak akan optimal.
Maka salah satu cara yang dilakukan agar anak tetap dalam pengasuhan
dan mendapatkan perhatian adalah dengan menampung anak-anak tersebut kedalam
suatu wadah yaitu panti asuhan, guna membantu meningkatkan kesejahteraan anak
dengan cara mendidik, merawat, membimbing, mengarahkan dan memberikan
keterampilan-keterampilan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga.
Dalam upaya optimalisasi program pemenuhan kebutuhan dasar anak, panti
sosial asuhan anak (PSAA) telah menjadi salah satu wadah yang tepat dalam upaya
membantu anak yang dimana orang tuanya tidak mampu untuk memenuhi kebuthan
dasar anak. Pelayanan yang diberikan bertujuan agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal. Optimalisasi pelayanana dapat mengacu pada pemenuhan
kebutuhan dasar anak. Upaya pemberian pemenuhan kebutuhan dasar anak melalui
pelayanan sosial yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan anak asuh.
Pemenuhan kebutuhan dasar yang dilakukan oleh panti sosial harus dapat
memenuhi kebutuhan anak asuhnya. Disamping itu ada beberapa hal yang harus
diperhatikan agar pemenuhan kebutuhan bisa lebih ditingkatkan lagi. Salah satunya
adalah memperhatikan asupan makanan bergizi untuk anak, kurangnya sarana bagi
anak untuk menyalurkan hobinya
Dengan demikian panti asuhan sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya
seorang anak membutuhkan pengasuhan yang mempunyai jiwa sosial tinggi dan
mengerti tentang bagaimana pengasuhan yang seharusnya diterpakan terhadap anak
asuhnya. Pengasuhan yang memiliki jiwa sosial
memungkinkan seorang anak akan lebih nyaman dan secara tidak langsung mereka
merasakan kehangatan dan kebersamaan dalam keluarga seperti hal nya anak
yang dalam bimbingan orangtuanya langsung.
DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth B. Hurlock, 1980, Psikologi Perkembangan. Ciracas, Jakarta
13740. Jalaluddin Rakhmat. (1985). Psikologi
Komunikasi, Bandung: CV. Remadja Karya http://eprints.uny.ac.id/9700/2/BAB%202%20-%2008102241026.pdf
http://www.ykai.net/index.php?option=com_content&view=article&id=891:lembaga-kesejahteraan- sosial-anak&catid=98:lingkungan-keluarga-dan-pengasuhan-alternatif&Itemid=127